Mungkinkah LSM Mencapai Kebebasan Financial?

Pertanyaan itu menggugah rasa penasaran saya untuk berfikir bagaimana caranya ya, sebab saya selalu yakin kita pasti bisa jika kita benar-benar serius mengupayakan dan yakin pokoknya pasti deh “kita bisa”…. Kayak lagu theme song Sea Games itu lho… Penuh optimisme.

Dialog ilustrasi :

Pengemis : “Kok kondom, Pak?”

Petugas    : “Saya gak punya uang. Saya dari LSM yang mendampingi komunitas yang rentan AIDS sekaligus penyuluh KB. Selain berguna untuk menanggulangi penularan HIV, Kondom juga bapak butuhkan untuk mengurangi jumlah anak miskin di Indonesia”

Kebebasan Finansial (Financial freedom) dalam konteks LSM didefinisikan sebagai gaya hidup yang terencana dengan baik dimana suatu saat LSM tidak membutuhkan bantuan dana untuk mendapatkan pendapatan guna membiayai pengeluaran – pengeluaran yang dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan LSM . Biasanya kebebasan finansial ini bisa dicapai dengan 2 kemungkinan :

  • LSM punya pendapatan pasif dari investasi.
  • Banyak  Aset yang bisa dicairkan secara teratur.

Sebaiknya LSM sudah punya target kapan lembaga anda akan mencapai kebebasan finansial, sehingga organisasi lebih bebas memilih apa jenis kegiatan social yang akan dilakukan LSM  tanpa intervensi dari lembaga donor, pemerintah dsb.

Berpikir Seperti Orang Kaya

Anda akan menjadi apa yang seringkali Anda Pikirkan. Orang-orang kaya mempunyai kebiasaan selalu berpikir tentang kebebasan finansial. Sejak muda atau pada suatu saat dalam hidupnya, mereka menjadi sangat fokus pada pencapaian suatu tujuan keuangan. Mereka kemudian membangun disiplin untuk melakukan pengorbanan-pengorbanan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan itu. Mereka mengatur ulang seluruh kehidupan finansialnya : pendapatan, asuransi, investasi dan pengeluaran-pengeluaran sehingga terkoordinasi dan membuat mereka dapat mencapai target finansialnya.

LSM perlu Memilih Arah

Arah pertama adalah menghasilkan uang, menyisihkan uang untuk investasi, membangun kekayaan hingga suatu saat organisasi dapat membiayai bagian-bagian penting yang harus ada agar dapat melanggengkan kegiatan dalam organisasinya. Contohnya: honor sukarelawan dan overhead kantor

Arah ke dua adalah menghasilkan uang, membelanjakan dan terperangkap dalam mencari sumber-sumber pendanaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan visi misi organisasi. Dengan kata lain, organisasi terpaksa jadi “opportunis” agar dapat bertahan membiayai gaji pegiat dan operasional kantor.

Terlepas dari arah manapun yang telah Anda pilih selama ini, Anda bebas untuk memilih arah mana yang akan Anda ambil sekarang dan selanjutnya. Jika arah pertama pilihannya suatu saat organisasi dapat mandiri. Namun jika arah kedua yang dipilih bersiaplah dengan perubahan-perubahan tren kebijakan dan intervensi donor dalam organisasi anda.

Membangun Mindset Jutawan

Jim Rohn pernah menulis:
“ Becoming a millionaire is not that difficult, but it is not the most important thing. The most important part of becoming a millionaire is the person that you have to become to accumulate a million dollars in the first place.

Mengadopsi Kebiasaan Jutawan  dalam Organisasi

  1. Merencanakan keuangan organisasi sehingga semua kegiatan organisasi berjalan efektif dan efesien
  2. Membiasakan menyisihkan dana-dana organisasi secara legal, misalnya dengan menghimpun dana (menabung untuk organisasi) dari honor relawan atau sumbangan personal dan menginvestasikan dana tersebut untuk keberlanjutan organisasi.
  3. Disiplin dalam manajemen keuangan lembaga dengan memisahkan entitas lembaga dari pendiri, manajemen atau siapapun. Dengan kata lain, setiap uang muka harus dapat dipertanggungjawabkan dan tidak memberikan ruang bagi personal untuk menggunakan dana lembaga untuk kepentingan pribadi.
  4. Melakukan upaya fundraising yang berkelanjutan

Diadaptasi dari Million Dollar Habits, Brian Tracy.

Related Posts:

Tags: 
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. Bisa, yang penting mampu dan mau, mau ber-efisiensi dan mampu ber-investasi. Meskipun agak menyerempet bahaya, karena memulai bisnis atau semi bisnis atau sedikit berbau bisnis, berarti bermain-main dengan resiko. Tapi tanpa beranjak kesana, kita tak pernah bisa mandiri. Sederhanya bisa ber-fundraising secara”serius”, lalu ketika dana mulai “menggunung”, berinvestasilah dengan hati-hati. Invetasi Emas mungkin bisa jadi alternatif, atau valas jika “bernyali”. Intinya disini “niat baik”, jika inti pertama dilanggar, kita tidak lagi bicara kemandirian atau investasi, tapi kita sudah masuk wilayah “moral hazard”, susah menyembuhkannya, karena disinilah sebenarnya “neraka-nya” LSM, ketika duit menjadi raja dan semua orang yang tadinya berniat baik jadi “hamba sahaya”. Kembali ke laptop, intinya mau dan mampu harus dibarengi juga dengan niat baik,, barulah kita bisa melenggang, kita pasti bisa!.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*