Akhir-akhir ini banyak sekali organisasi nirlaba yang memiliki unit usaha sebagai bentuk dari komitmen fundraising lembaga. Sistem fundraising ini dapat menolong lembaga untuk menjalankan kegiatan operasional sehari-hari tanpa menunggu kucuran dana dari donor.
Unit usaha pada fundraising dapat berupa di bidang manufaktur, trading, atau jasa. Namun yang akan kita bahas yaitu pada bidang manufaktur, karena banyak hal yang bisa dikupas terutama dari sisi persediaan barang (inventory).
Apa sih persediaan itu?
Persediaan dapat dikatakan sebagai barang yang diperoleh untuk dijual kembali dengan atau tanpa melalui pengolahan lebih lanjut lagi. Persediaan terdiri dari 3 jenis, yaitu persediaan bahan mentah (raw material), barang setengah jadi, dan barang jadi (finished good).
Pencatatan persediaan melalui 2 (dua) metode, yaitu metode Perpetual dan metode Periodik. Akan kita bahas satu persatu dengan rinci.
- Metode Perpetual
Dalam metode perpetual, catatan persediaan barang dibuat secara kontinue, dan setiap jenis harga dibuat tersendiri dalam buku besar pembantu.
Jurnal pada waktu membeli barang
| Debet | Persediaan barang dagangan | Rpxxx | |||
| Kredit | Hutang atau Kas | Rpxxx | |||
Jurnal pada waktu menjual barang
| Debet | Harga Pokok Penjualan | Rpxxx | ||
| Kredit | Persediaan barang dagangan | Rpxxx | ||
Sehingga akun persediaan akan menunjukkan harga pokok dari persediaan yang ada di gudang.
- Metode Periodik
Pada metode periodik, untuk penjualan barang tidak dibuatkan jurnal harga pokok penjualan di bagian akuntansi. Pada akhir tahun, persediaan yang ada digudang penyimpanan dihitung jumlah kuantitasnya dan ditentukan harga belinya.
Untuk menentukan persediaan yang dipakai/dijual, persediaan yang pernah ada (persediaan awal ditambah pembelian selama satu periode) dikurangi persediaan akhir pada periode tersebut. Kemudian dibuat jurnal penyesuaian. Jurnal pertama mendebet akun Ikhtisar Laba Rugi, dan mengkredit akun Persediaan Barang Dagangan Awal. Jurnal yang kedua didasarkan atas inventarisasi fisik barang pada akhir tahun, yaitu mendebet akun Persediaan Barang Dagangan Akhir dan mengkredit akun Ikhtisar Laba Rugi.
Bila perhitungan fisik diadakan pada jangka waktu tertentu bagi persediaan barang, maka sistem perhitungan tersebut dinamakan sistem periodik.
Berikut ini adalah ilustrasi untuk metode Perpetual dan Periodik:
|
No. |
Transaksi |
Metode Periodik |
Metode Perpetual |
||||
|
1. |
Membeli barang dagangan secara kredit Rp 15.000 | PembelianHutang | 15.000 | 15.000 | Persediaan Brg Dag.Hutang | 15.000 | 15.000 |
|
2. |
Retur Pembelian Rp 1.000 | HutangRetur Pembelian | 1.000 | 1.000 | HutangPersediaan BrgDag | 1.000 | 1.000 |
|
3. |
Terdapat barang yang dijual. Harga jual Rp 4.500 dan harga pokok barang Rp 2.000 | Piutang/KasPenjualan | 4.500 | 4.500 | Piutang/KasPenjualanHPP
Persediaan BrgDag |
4.5002.000 | 4.500
2.000 |
|
4. |
Pada akhir tahun | Mutlak harus dilakukan inventarisasi fisik, karena tanpa inventarisasi barang, tidak dapat diketahui persediaan yang ada. | Tanpa inventarisasi sudah dapat diketahui persediaan, namun inventarisasi perlu dilakukan. | ||||
| Misalkan menurut perhitungan fisik saldo persediaan pada akhir tahun sebesar Rp 300, dan pada awal tahun Rp 150 | Ikhtisar L/RPersediaan B.D.
Persediaan B.D Ikhtisar L/R |
150
300 |
150
300 |
Jika hasil inventarisasi fisik tidak sama dengan saldo rekening persediaan, perusahaan perlu membuat jurnal. Jika sama tidak perlu membuat jurnal | |||
Sistem periodik dipergunakan pada pedagang eceran yang menjual barang dengan harga rendah. Misalnya toko besi dan sebagainya. Tetapi kalau pedagang eceran menjual barangnya dengan harga mahal serta jenisnya tidak terlalu banyak seperti peralatan kantor, mobil, biasanya akan dipergunakan metode perpetual.


