Metode Akuntansi Persediaan Barang (Inventory) (Bagian 2/2)

Harga Pokok Persediaan Barang

Harga berbagai macam barang dapat berbeda-beda. Dalam hal ini perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menentukan harga pokok barang yang dipakai/dijual dan harga pokok barang yang masih digudang. Harga pokok persediaan barang dagangan terdiri dari harga beli ditambah semua pengeluaran termasuk biaya-biaya pengangkutan, bea masuk, cukai, dan asuransi. Biaya-biaya yang jumlahnya kecil dapat dikeluarkan dari harga pokok barang menjadi biaya operasional. Bila ada potongan pembelian, maka mengurangi harga pembelian suatu barang.

Contoh persediaan:

Tanggal

Keterangan

Pembelian

Harga

1 Januari Persediaan awal 200 unit @ Rp 300,- Rp   60.000,-
10 Maret Beli 150 unit @ Rp 450,- Rp   67.500,-
15 April Beli 250 unit @ Rp 500 Rp 125.000,-
4 Juni Beli 300 unit @ Rp 550,- Rp 165.000,-
15 September Beli 100 unit @ Rp 650,- Rp   65.000,-

Total

Rp 482.500,-

Karena harga belinya berbeda, maka perlu asumsi arus barang yang digunakan  sebagai dasar penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir sebagai berikut:

  • FIFO (First In First Out)

Barang yang masuk terlebih dahulu merupakan barang yang pertama kali keluar dari gudang sehingga persediaan akhir akan berasal dari pembelian yang terakhir. Contoh: persediaan jus dalam kemasan.

Ciri khas FIFO yaitu:

  1. Menghasilkan harga pokok penjualan yang rendah,
  2. Menghasilkan laba kotor yang tinggi,
  3. Menghasilkan persediaan akhir yang tinggi.

Ilustrasi harga pokok penjualan 700 unit barang yang dijual dengan metode fifo:

Penjualan

Harga

200 unit @ Rp 300,- Rp   60.000,-
150 unit @ Rp 450,- Rp   67.500,-
250 unit @ Rp 500,- Rp 125.000,-
100 unit @ Rp 550,- Rp   55.000,-
Total HP Penjualan Rp 307.500,-

Maka, nilai sisa barang pada tanggal 31 Desember adalah Rp 482.500 – Rp 307.500 = 175.000,- untuk 300 unit.

  • LIFO (Last In First Out)

Barang yang terakhir masuk merupakan barang yang pertama kali keluar. Contoh: persediaan batu bata.

Ciri khas LIFO yaitu:

  1. Mudah menandingkan biaya sekarang dengan pendapatan sekarang,
  2. Jika harga naik, harga barang konservatif,
  3. Laba operasi tidak tercemar oleh untung/rugi fluktuasi harga,
  4. Jika harga berfluktuasi, dapat meratakan laba tahunan.

Ilustrasi harga pokok penjualan 700 unit barang yang dijual dengan metode lifo:

Penjualan

Harga

100 unit @ Rp 650,- Rp   65.000,-
300 unit @ Rp 550,- Rp 165.000,-
250 unit @ Rp 500,- Rp 125.000,-
50 unit @ Rp 450,- Rp   22.500,-
Total HP Penjualan Rp 377.500,-

Nilai sisa barang pada tanggal 31 Desember yaitu Rp 482.500 – Rp 377.500 = 105.000,- untuk 300 unit.

  • AVERAGE

Pengeluaran barang dilakukan secara acak dan harga barang yang sudah digunakan maupun yang masih ada ditentukan dengan dicari rata-ratanya. Penerapan asumsi ini dapat digunakan di metode Perpetual maupun metode Periodik.

Dari ilustrasi diatas, dengan 1000 unit barang didapatkan harga rata per-unitnya, yaitu Rp 482.500,-/1000 unit = Rp 482,5/unit

Nilai sisa barang untuk 300 unit pada tanggal 31 Desember adalah 300 unit x Rp 482,5,- = Rp 144.750,-. Sehingga, harga pokok penjualannya adalah Rp 482.500 – Rp 144.750 = Rp 337.750,-.

Related Posts:

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*