Harga Pokok Persediaan Barang
Harga berbagai macam barang dapat berbeda-beda. Dalam hal ini perusahaan akan mengalami kesulitan dalam menentukan harga pokok barang yang dipakai/dijual dan harga pokok barang yang masih digudang. Harga pokok persediaan barang dagangan terdiri dari harga beli ditambah semua pengeluaran termasuk biaya-biaya pengangkutan, bea masuk, cukai, dan asuransi. Biaya-biaya yang jumlahnya kecil dapat dikeluarkan dari harga pokok barang menjadi biaya operasional. Bila ada potongan pembelian, maka mengurangi harga pembelian suatu barang.
Contoh persediaan:
|
Tanggal |
Keterangan |
Pembelian |
Harga |
| 1 Januari | Persediaan awal | 200 unit @ Rp 300,- | Rp 60.000,- |
| 10 Maret | Beli | 150 unit @ Rp 450,- | Rp 67.500,- |
| 15 April | Beli | 250 unit @ Rp 500 | Rp 125.000,- |
| 4 Juni | Beli | 300 unit @ Rp 550,- | Rp 165.000,- |
| 15 September | Beli | 100 unit @ Rp 650,- | Rp 65.000,- |
|
Total |
Rp 482.500,- | ||
Karena harga belinya berbeda, maka perlu asumsi arus barang yang digunakan sebagai dasar penentuan harga pokok barang yang dijual dan persediaan akhir sebagai berikut:
- FIFO (First In First Out)
Barang yang masuk terlebih dahulu merupakan barang yang pertama kali keluar dari gudang sehingga persediaan akhir akan berasal dari pembelian yang terakhir. Contoh: persediaan jus dalam kemasan.
Ciri khas FIFO yaitu:
- Menghasilkan harga pokok penjualan yang rendah,
- Menghasilkan laba kotor yang tinggi,
- Menghasilkan persediaan akhir yang tinggi.
Ilustrasi harga pokok penjualan 700 unit barang yang dijual dengan metode fifo:
|
Penjualan |
Harga |
| 200 unit @ Rp 300,- | Rp 60.000,- |
| 150 unit @ Rp 450,- | Rp 67.500,- |
| 250 unit @ Rp 500,- | Rp 125.000,- |
| 100 unit @ Rp 550,- | Rp 55.000,- |
| Total HP Penjualan | Rp 307.500,- |
Maka, nilai sisa barang pada tanggal 31 Desember adalah Rp 482.500 – Rp 307.500 = 175.000,- untuk 300 unit.
- LIFO (Last In First Out)
Barang yang terakhir masuk merupakan barang yang pertama kali keluar. Contoh: persediaan batu bata.
Ciri khas LIFO yaitu:
- Mudah menandingkan biaya sekarang dengan pendapatan sekarang,
- Jika harga naik, harga barang konservatif,
- Laba operasi tidak tercemar oleh untung/rugi fluktuasi harga,
- Jika harga berfluktuasi, dapat meratakan laba tahunan.
Ilustrasi harga pokok penjualan 700 unit barang yang dijual dengan metode lifo:
|
Penjualan |
Harga |
| 100 unit @ Rp 650,- | Rp 65.000,- |
| 300 unit @ Rp 550,- | Rp 165.000,- |
| 250 unit @ Rp 500,- | Rp 125.000,- |
| 50 unit @ Rp 450,- | Rp 22.500,- |
| Total HP Penjualan | Rp 377.500,- |
Nilai sisa barang pada tanggal 31 Desember yaitu Rp 482.500 – Rp 377.500 = 105.000,- untuk 300 unit.
- AVERAGE
Pengeluaran barang dilakukan secara acak dan harga barang yang sudah digunakan maupun yang masih ada ditentukan dengan dicari rata-ratanya. Penerapan asumsi ini dapat digunakan di metode Perpetual maupun metode Periodik.
Dari ilustrasi diatas, dengan 1000 unit barang didapatkan harga rata per-unitnya, yaitu Rp 482.500,-/1000 unit = Rp 482,5/unit
Nilai sisa barang untuk 300 unit pada tanggal 31 Desember adalah 300 unit x Rp 482,5,- = Rp 144.750,-. Sehingga, harga pokok penjualannya adalah Rp 482.500 – Rp 144.750 = Rp 337.750,-.


