Laporan Rugi Laba VS ROI

ROI menjadi tolok-ukur pebisnis mengukur besar imbalan yang diperoleh dari investasi yang ditanamkan. Faktor yang membentuknya cuma dua, sederhana sekali bukan, hanya laba dan jumlah investasi. Bisa jadi itu sebabnya para pebisnis pada akhir tahun selalu menanyakan “Berapa laba kita? Untung besar nggak kita tahun ini?” Setelah mendapat jawabannya, diam-diam di belakang kepala, mereka akan menghitung ROI.

Sekarang kita baru melihat masalahnya. Karena ada dua faktor yang membentuk ROI, mestinya kita lalu bertanya-tanya bagaimana mereka mendefinisikan laba perusahaannya, bagaimana juga definisi investasinya .

Kebanyakan UKM pada tahap awal, membuat laporan laba rugi mereka seperti laporan kas. Dengan laporan kas ini, mereka tahu persis berapa uang yang mereka pegang. Karena laporan kas memang menuliskan semua transaksi kas, semua uang yang masuk dan semua uang yang keluar, yang tercatat terakhir dapat diartikan sebagai sisa kas perusahaan.

Dan laporan inilah yang di-claim sebagai laporan rugi laba. Sayangnya teman-teman, ada salah istilah di sini, karena ini bukan laporan rugi laba.

ROI dihitung dari laba, bukan sisa kas.

Tingkat pengembalian modal yang telah ditanamkan atau yang disebut sebagai ROI (return on investment) dihitungnya dari angka laba bersih bukan dari sisa kas.

Apa bedanya?

Banyak. Kedua-duanya bicara soal uang, tetapi kas bicara tentang semua transaksi yang ada wujud duitnya, selembar, dua lembar, cring-cring, dan seterusnya. Dari mana uangnya? Dari mana saja, dari kegiatan bisnis Anda, dapat pinjaman dari teman, dari kantong pribadi Anda sendiri juga tidak masalah.

Yang penting uang tunai, kas. ltulah singkatnya laporan kas.

Laporan rugi laba sangat berbeda. Bentuk laporan yang pilih-pilih sekaligus “menipu” . Pilih-pilih, karena hanya urusan operasional saja yang dia mau catat. Yang berhubungan dengan day-to-day kegiatan bisnisnya. Maksudnya, dimulai khusus dari besar penjualan yang didapat dari bisnis inti. Selain besar penjualan, laporan rugi laba juga mencatat biaya yang keluar akibat penjualan itu: tambahan tagihan listrik, air, telepon, penggantian spare part mesin, juga kewajiban-kewajiban yang mesti dibayar karena mendirikan usaha: gaji karyawan, bunga bank karena pinjam duit ke bank, sumbangan-sumbangan dan semacamnya. Inilah yang disebut sebagai aktivitas operasional. Dan inilah yang dicatat oleh laporan rugi laba.

Laporan rugi laba juga “menipu”. Padahal laporan ini laporan andalan para pebisnis, yang notabene sangat perhatian terhadap yang namanya hasil. Ternyata laporan ini tidak hanya mencatat kegiatan yang ada uangnya, tetapi juga kegiatan yang dibayangkan ada uangnya.

Apa yang termasuk dalam kegiatan uang yang dibayangkan?

  1. Penjualan non-cash alias penjualan kredit alias penjualan yang ‘ntar aja bayarnya”. Dan ini berarti, hari ini belum ada uang-nya.
  2. Biaya sewa (atau biaya-biaya lain yang disebut biaya dibayar di muka). Kalau kita menyewa gedung bangunan atau gudang, biasanya kita sewa untuk sekian tahun bukan hanya untuk satu tahun. Pembayarannya sudah kita lakukan pada awal kontrak. Pencatatannya di laporan rugi laba, dibagi buat tiap tahunnya. Jadi, kalau kita bayar sewa menurut kontrak sewa besar Rp5 juta untuk 5 tahun, yang keluar di laporan rugi laba tiap tahunnya adalah Rp1 juta dan ini akan berlangsung selama 5 tahun berturut-turut sampai masa sewanya selesai. Biaya Rp1 juta yang keluar tiap tahun itu menjadi ‘duit bayangan’ karena memang tidak pernah keluar lagi tiap tahunnya . Catatannya saja yang keluar, tulisan saja. Uangnya pernah keluar once upon a time, dan sekarang pada waktu dicatat di laporan rugi laba, tetap utuh di dompet perusahaan tidak “pergi” ke mana pun.
  3. Biaya depresiasi. Biaya depresiasi juga biaya yang dibayangkan, karena tidak ada duit cring-cring yang keluar dari kantong perusahaan untuk biaya ini. Kalau dari segi akuntansi biaya ini muncul supaya beban pembelian mesin itu tidak ditanggung oleh satu tahun kerja. Biaya ini ada karena pebisnis sadar bahwa apapun itu dengan berjalannya waktu akan menjadi tua dan aus. Besar ausnya mengurangi laba perusahaan, dan dinamakan biaya depresiasi. Kas tetap ngendon di kantong perusahaan, dan bisa dianggap sebagai ‘tabungan’ untuk beli mesin yang baru atau untuk merenovasi bangunan lagi.

Mau dibilang pilih-pilih atau “menipu”, faktanya laporan rugi laba itu menunjukkan aktivitas bisnis inti Anda. Dan orang berduyun-duyun menjalankan usaha dan bertujuan cari “untung” atau laba.

Laporan rugi laba baik untuk melihat kinerja operasional. Dengan laporan rugi laba ini pula, selain kita menilai kinerja manajer penjualan kita juga menilai seberapa hebat orang produksi kita melakukan rekayasa nilai (untuk menaikkan harga). Kalau hasil produksi bisa dibayar mahal, dengan jumlah pelanggan yang sama pun besar keuntungan tetap jadi lebih besar bukan?

Semua nilai kinerja itu baik untuk melihat seberapa indah masa depan usaha kita itu plus seberapa menguntungkannya usaha itu dilihat dari jumlah investasi yang telah ditanamkan oleh para pemegang saham alias pernilik usaha.

Berapa laba usaha Anda? Berapa ROI-nya?

Disarikan dari buku: Menilai Kinerja Manajer Lewat Laporan Keuangan, Penulis: Peni R, Pramono, Halaman: 8-19.

Related Posts:

Tags: 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*