Cara Mengontrol LSM, Pandangan Wong Cilik

Jangan hanya seminar, kumpul-kumpul, ngobrol-ngobrol di hotel-hotel berbintang, tetapi tidak ada hasil konkretnya untuk rakyat.

Nama saya Rasdullah, saya warga Jakarta yang sudah lima tahun bersama Urban Poor Consortium (UPC) atau Konsorsium Kemiskinan Kota dan sempat dicalonkan menjadi gubernur DKI Jakarta, meskipun akhirnya dicoret juga.

Saya akan bicara bagaimana mengontrol LSM yang baik dari pandangan masyarakat kecil yang selama ini selalu dibawa-bawa atau diatasnamakan oleh LSM.

Bicara soal mekanisme kontrol ideal bagi LSM, kontrol itu akan ideal bila yang melakukan kontrol adalah masyarakat sendiri. Mekanisme kontrol akan bagus bila LSM juga bertanggung jawab secara langsung terhadap masyarakat yang dibinanya.

Selama mengikuti UPC, memang saya beberapa kali dikirim ke luar negeri. Saya juga pernah dikirim ke beberapa daerah, salah satunya ke Jogjakarta. Dalam beberapa kunjungan tersebut, salah satu persoalan yang sering ditanya dan diperdebatkan adalah, bagaimana cara mengontrol LSM. Banyak yang melihat upaya semacam itu susah sekali dilakukan. Apalagi bila warga masyarakatnya belum tahu betul bagaimana cara kerja LSM. Terlebih kalau LSM-nya sendiri juga belum tahu secara benar cara mengabdikan diri dan bertanggung jawab kepada masyarakat.

Sebagai masyarakat awam dan orang yang pernah ditolong serta dibina oleh LSM, kita ingin melihat para pegiat LSM punya hati dan komitmen yang bersih. Kita ingin mereka benar-benar punya niat dan iktikad yang baik untuk membela dan memperjuangkan kepentingan masyarakat. Kita tidak ingin mereka hanya menjual nama masyarakat, kemudian setelah mendapatkan dana atau proyek, masyarakatnya tidak dipikirkan lagi. Jadi, mekanisme kontrol bisa dilakukan bila kita bisa menghentikan tindakan LSM yang hanya “menjual” nama masyarakat, kemudian meninggalkan masyarakat yang menjadi binaannya.

Kita sudah merdeka dan hidup bebas di negeri ini lebih dari setengah abad. Namun, nasib kita tetap sengsara dan tak pernah ada perbaikkan dari tahun ke tahun. Sekarang pemerintah sudah tidak memikirkan rakyat lagi. Karena itu, LSM menjadi salah satu tumpuan harapan masyarakat untuk memperjuangkan nasib mereka. Tapi, kalau LSM itu kerjanya Cuma semata-mata cari uang, bukan mementingkan masyarakat, mau jadi apa Indonesia ini? Nasib rakyat kecil seperti kami akan amburadul terus. Tak peduli, sampai berganti berapa kali pun presidennya, tetap amburadul.

Sewaktu saya berada di Bangkok, ada sekelompok LSM yang memutar film mengenai kondisi rakyat miskin di Indonesia. Film itu memperlihatkan orang-orang miskin sedang mencuci di pinggir kali dan sebagian lainnya sedang mencari sampah. Film itu diputar di sana hanya untuk mencari dana kasarnya “menjual” penderitaan rakyat miskin. Sayangnya, bantuan yang didapat tak pernah sampai ke tangan orang-orang miskin yang dipertontonkan dalam film itu. Saya sedih dan marah melihat kenyataan semacam ini. Marah karena saya nggak bisa berbuat apa-apa. Saya nggak bisa mengadukan ini pada bule-bule itu karena saya nggak bisa berbahasa Inggris.

Begitu juga dalam kasus pembagian dana JPS (Jaringan Pengamanan Sosial). Kita juga tidak pernah kebagian dana bantuan itu. Dana yang seharusnya dibagi secara adil dan merata pada kaum miskin, hanya berputar di daerah dan kelompok tertentu. Yang dapat orang-orang yang punya ikatan atau hubungan dekat dengan LSM penyalurnya. Dalam pembagian raskin alias beras miskin, kasusnya pun setali tiga uang alias sama saja. Rasdullah yang miskin dan orang-orang miskin lainnya juga tidak pernah kebagian.

Kalau LSM memang benar-benar ingin membantu rakyat miskin, marilah berjuang bersama-sama. Dengan demikian masyarakat dan para aktivis LSM sama-sama kuat dan sejahtera. Kita bisa memikirkan dan berupaya agar organisasi LSM lancar agar bisa terus berjuang memberdayakan dan mensejahterakan rakyat. Jadi, jangan hanya cari proyek untuk mengenyangkan perutnya sendiri. Jangan hanya seminar, kumpul-kumpul, ngobrol-ngobrol di hotel-hotel berbintang, tetapi tidak ada hasil konkretnya untuk rakyat. Mereka mikir apa yang bisa dimakan besok hari ini, karena uang dan tinggal memilih menu makanan. Sementara rakyat terus berpikir, mau makan dari mana atau apa yang bisa dimakan karena tidak punya uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini kondisi yang cukup senjang. Kalau kondisi semacam ini dibiarkan terus, maka LSM akan jauh dari rakyat kecil.

Jadi, pengawasan dan kontrol terhadap berbagai tindak-tanduk serta perilaku LSM akan berjalan jujur dan efektif bila melibatkan anggotanya dan masyarakat luas yang menjadi binaan atau dampingannya, keterlibatan anggota dan masyarakat ini menjadi tolak ukur transparansi dan kejujuran LSM. LSM akan berhati-hati dalam menjalankan tugas dan aktivitasnya karena dikontrol dan diawasi oleh masyarakat. LSM semacam itu akan mendapatkan dukungan dari masyarakat karena mereka merasa memiliki dan mengawasi. Sebaliknya, kalau sejak semula sudah ada iktikad tidak jujur, maka LSM itu akan khawatir dan ketakutan untuk melibatkan dan mengawasi masyarakatnya. LSM semacam ini akan dijauhi oleh publik.

UPC merupakan salah satu contoh yang baik dalam melibatkan masyarakat untuk mengontrol dan mengawasi LSM. Saya selalu bilang dan mengkritik mereka apabila ada kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan pengurus. Kritik semacam itu dianggap hal yang wajar dan sah-sah saja. Misalnya, pernah ada pengurus yang menawari kita untuk berdemo membela Gus Dur pada saat dia masih menjadi presiden karena beliau dianggap sebagai pembela rakyat yang sedang teraniaya. Saya protes keras di depan forum yang membahas rencana itu. Saya pertanyakan kepada mereka “Kenapa kita harus mendukung Gus Dur? Dibayar berapa kita? Apa relevansi dan manfaatnya bagi kami sebagai rakyat kecil?” Saya mengungkapkan hal itu karena saya tahu biasanya ada permainan uang atau kepentingan di balik mendukung. Lontaran saya ternyata mendapat respon positif dari teman-teman dan semua sepakat untuk tidak melakukan demo dukung-mendukung. Saya bilang, kalau memang benar-benar ingin mensejahterakan masyarakat, ingin mendidik masyarakat supaya pandai, jangan kasih duit atau mengajak mereka untuk dukung-mendukung kelompok tertentu. Duit tidak bisa memecahkan masalah justru membikin rebut di organisasi.

Untuk mengatasi penyimpangan di organisasi LSM, pengurus LSM juga harus tegas terhadap anggotanya yang menyimpang. Jangan dibiarkan atau hanya diberi hukuman ringan, misalnya hanya diskors. Itu justru membuat LSM menjadi tidak berwibawa dan cacat di mata masyarakat. Misalnya, kalau ada anggotanya yang ikut demo ke mana-mana, lalu ketahuan bahwa dia menerima dana untuk melakukan demo itu, orang itu harus dipecat. Itu yang saya lihat pernah dilakukan oleh Wardah Hafild sewaktu sewaktu memecat anggota yang ketahuan makan dana dari orang lain. Tindakan tegas jangan hanya dilakukan pada penyelewengan yang jumlahnya besar, tetapi juga pada penyimpangan dana yang jumlahnya kecil itu bisa menjadi bibit koruptor dan berbahaya bagi organisasi. Jadi, kalau ketahuan korupsi seratus perak saja, langsung dipecat. Karena itu, LSM harus transparan dan terbuka mengenai dana yang ia terima. Dia harus menjelaskan kepada masyarakat berapa uang yang dipakai untuk kepentingan masyarakat dan berapa yang digunakan untuk keperluan organisasi.

Jadi berbagai pemasukan dan pengeluaran yang diperoleh LSM harus jelas pencatatan dan pelaporannya. Misalnya, kita pakai telepon, harus jelas untuk keperluan apa dan berapa dana yang dihabiskan. Kalau telepon itu dipakai untuk urusan pribadi, maka yang bersangkutan harus bayar sendiri. Untuk urusan uang,  LSM harus berhati-hati sekali. Dana yang didapat juga harus jelas betul dari mana asalnya dan bagaimana cara mendapatkannya. Kalau tidak jelas betul, harus dikembalikan uangnya. Itu penting untuk mengantisipasi timbulnya fitnah dan korupsi. Itu juga bisa jadi teladan buat masyarakat dan LSM yang lain. LSM menuntut pemerintah transparan dan setiap hari teriak-teriak lewat koran, TV tentang bahaya korupsi, tapi di dalam organisasi LSM sendiri justru malah korupsi.

Untuk mendidik masyarakat, LSM jangan hanya mencekoki masyarakat dengan slogan-slogan dan omongan yang abstrak yang susah dicerna masyarakat. Mereka juga harus memikirkan kebutuhan pokok masyarakat. Misalnya, kalau ada kasus penggarukan becak atau penggusuran rumah, mereka jangan hanya diajak demo. LSM juga perlu memikirkan bagaimana kebutuhan hidup mereka terpenuhi setelah rumah atau mata pencahariannya digusur. Kalau hanya diajak demo, mereka mungkin hanya betah sehari dua hari. Setelah itu, mereka akan bertanya-tanya, apakah saya bisa memenuhi kebutuhan saya dengan demo. Karena itu, perlu dipikirkan juga usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Misalnya, memberikan ketrampilan tambahan yang bisa menjadi bekal mereka mencari nafkah hidup, atau memberi modal lewat koperasi. Itu juga mengantisipasi agar orang-orang yang tergusur dan tertindas itu tidak berpikiran dan berbuat nekat untuk memecahkan persoalan hidupnya.

Akhirnya, kalau para aktivis LSM ingin sekali menjadi orang yang jujur dan menjalankan organisasinya dengan amanah, bijaksana, dan transparan, serta hatinya benar-benar mengabdi untuk kepentingan masyarakat, insya Allah kerjanya pun akan diridhoi oleh Allah dan tidak ada halangan suatu apa pun.

Untuk mengakhiri paparan ini, saya ingin menyitir sebuah syair lagu nasional. Lagu ini sering dinyanyikan mahasiswa, juga para orang kecil yang selalu digusur, diusir dan digaruk. Lagu ini selalu terngiang-ngiang setiap kita akan tidur. Semoga lagu ini bisa menjadi pengingat bagi para aktivis LSM untuk senantiasa memperjuangkan kepentingan rakyat.

“Indonesia tanah air siapa, katanya tanah air kita (beta). Indonesia sejak empat lima, janjinya rakyat sejahtera. Nyatanya hatiku bertanya, kaki lima digusur tendanya. Tukang becak miskin dan sengsara…. Sampai akhir menutup mata….”

Oleh Rasdullah, Tukang Becak.

Sumber: BUKU KRITIK & OTOKRITIK LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia (Hamid Abidin & Mimin Rukmini), TIFA, PIRAC 2004, Halaman: 148-153

Related Posts:

Tags: ,
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. Salam kenal dari saya atas nama putra dan putri daerah Kelumpang/KAL-SEL.
    Tulisan di atas tampak lugu dan alami saya mau berkata Salut,tulisan dengan gambaran yang umum di negri ini terjadi juga di daerah saya dimana sumber daya alam yang melimpah di babat tanpa banyak timbal baliknya untuk masyarakat daerah.
    Saya orang Awam yang mengidekan bahwa masyarakat Kami harus mempunyai wadah non Pemerintah untuk mengontrol dan mengkritisasi Pemerintah LPKSMBTK(Lembaga Pemberdayaan dan Kesejahteraan Masyarakat Bumi Teluk Kelumpang)
    Demikian kami Namakan Lembaga yang bebasiskan Masyarakat ini.
    Untuk Saudara Rasdullah yang terhormat saya pernah melihat Bapak di banyak Media dan pernah menjadi kandidat Gubernur Jakarta.bacaan di atas Mengajarkan saya tentang Berorganisasi atas nama masyarakat.salam dari saya untuk saudara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*