Berapa Besar Defisit Pendanaan Kawasan Konservasi di Indonesia?

Status pembiayaan kawasan konservasi di Indonesia sejak 2004 sampai 2006 cenderung meningkat. Total pendanaan bagi kawasan konservasi pada 2004 adalah sebesar USD 34,89 juta. Jumlah itu meningkat secara signifikan menjadi USD 51,66 juta pada 2005, dan terus meningkat lagi menjadi USD 53,37 juta pada 2006.

Walaupun jumlahnya meningkat, tetapi jumlah itu masih relatif rendah jika dibandingkan dengan negara lain. Misalnya, dengan negara tetangga Thailand, atau apalagi dengan negara maju seperti Amerika Serikat.

Tabel Status Pendanaan untuk Kawasan Konservasi di Indonesia 2004–2006 (Juta USD)

No. Sumber Pendanaan 2004 2005 2006
1 Anggaran pemerintah pusat 21,01 31,18 35.99
2 Anggaran Pemerintah daerah 1,15 1,71 2.02
3 NGO 6,97 10,09 11.51
4 Donor bilateral dan multilateral 5,76 8,68 3.85
JUMLAH 34,89 51.66 53,37

Hamparan hutan Indonesia lebih luas dibanding Thailand. Namun dari penghitungan biaya konservasi per hektare terlihat bahwa biaya konservasi hutan Indonesia jauh lebih rendah dibanding Thailand.

Pada 2004, biaya konservasi hutan Indonesia adalah USD 2,35 per hektare. Angka sebesar itu ternyata hanya sepersepuluh biaya konservasi per hektare hutan Thailand yang mencapai USD 20,65; dan sangat jauh lebih rendah dibanding biaya konservasi per hektare kawasan di Amerika Serikat yang mencapai USD 76,12.

Tabel Perbandingan Biaya Konservasi dalam USD/Ha antara Indonesia, Thailand, dan Amerika Serikat

No Negara

1996

2004

Total Area USD/Ha Total Area USD/ Ha
1 Amerika Serikat 31,351,234 52,18 34,155,468 76,12
2 Thailand 6,805,600 13,65 9,380,812 20,65
3 Indonesia 21,324,979 0,44 28,084,706 2,35

Kenyataan di atas menggambarkan diperlukannya upaya serius untuk meningkatkan pembiayaan upaya konservasi di Indonesia: pembiayaan yang lestari dan berkelanjutan. Untuk itu, mula-mula diperlukan semacam penghitungan mengenai seberapa besar biaya yang diperlukan.

Caranya, tentu dengan membandingkan jumlah dana yang secara optimal dibutuhkan dengan jumlah dana yang selama ini tersedia. Selisihnya akan berupa defisit pembiayaan konservasi: inilah nilai biaya yang perlu diupayakan.

Menurut penghitungan yang dilakukan oleh Kantor Kementrian Lingkungan Hidup dan TNC (2006), kebutuhan dana yang optimal untuk kawasan konservasi di Indonesia pada tahun 2006 adalah sebesar USD 135,31 juta. Sementara jumlah pembiayaan yang selama ini dapat dipenuhi adalah sebesar USD 53,37 juta. Maka, defisit kebutuhan dana untuk kawasan konservasi di Indonesia pada 2006 adalah sebesar USD 81,94 juta.

Tabel Dana Konservasi di Indonesia dalam USD (2006)

Kawasan Pelestarian Dana Pemerintah Dana Non-Pemerintah Total Dana Dana Optimal Defisit
Cagar Alam 6,031,332 3,810,000 9,841,332 40,721,228 30,879,896
Suaka Margasatwa 4,962,460 2,800,000 7,762,460 14,967,461 7,205,001
Taman Nasional 15,957,616 3,100,000 19,057,616 45,929,609 26,871,993
Taman Wisata Alam 3,592,054 3,100,000 6,692,054 15,549,054 8,857,000
Taman Hutan Raya 1,979,528 200,000 2,179,528 3,365,734 1,186,206
Taman Buru 1,497,010 130,000 1,627,010 3,269,282 1,642,272
Taman Laut 3,990,000 2,220,000 6,210,000 11,505,622 5,295,622
JUMLAH 38,010,000 15,360,000 53,370,000 135,307,990 81,937,990

Mengacu kepada angka defisit itu, perkira-an kebutuhan biaya konservasi untuk suatu kawasan atau region tertentu dapat dilaku-kan. Misalnya, untuk kawasan pelestarian di Tanah Papua yang luasnya 10,02 juta hektare, yakni sekitar 35,46 % dari total kawasan konservasi di Indonesia yang luasnya 28,26 juta hektare, defisit pembiayaaan konservasinya kira-kira mendekati USD 42,5 juta per tahun.

Tabel Perhitungan Kebutuhan Dana Konservasi untuk Tanah Papua (2006)

Kebutuhan operasional konservasi seluruh Indonesia* : 135,307,990 USD
Ketersediaan dana pemerintah : 38,010,000 USD
Ketersediaan dana non-pemerintah : 15,360,000 USD
Defisit operasional per tahun : 81,937,990 USD
Start-up Cost untuk Kawasan Konservasi Baru : + 56,000,000 USD
Defisit Total per tahun : 137,937,990 USD
Luas kawasan konservasi di Indonesia*** : 28,259,526 Ha
Kebutuhan dana operasional konservasi per Ha per tahun : 4.88 USD
Luas kawasan konservasi di Tanah Papua : 8,711,011 Ha
Defisit dana operasional konservasi Tanah Papua per tahun : 42,519,443 USD

*Sumber: Kantor Menteri LH dan TNC (2006)

Tetapi yang perlu diingat, nilai defisit USD 42,5 juta bagi pendanaan konservasi Tanah Papua per tahun tersebut itu muncul sebagai hasil penghitungan berdasarkan data tahun 2006. Dasar perhitungan yang dilakukan tersebut di atas hanya dilakukan atas kawasan konservasi saja, belum dilengkapi dengan perhitungan biaya konservasi bagi wilayah-wilayah di luar kawasan konservasi.

Kini 2011. Dengan segala perkembangan yang terjadi selama lima tahun belakangan ini, hampir pasti defisit dana pembiayaan konservasi untuk Tanah Papua akan jauh lebih besar.

Kelangsungan upaya pelestarian sangat ditentukan oleh keberlanjutan aspek pendanaan. Keberlanjutan pendanaan untuk konservasi berarti kemampuan menjamin sumber daya finansial berjangka panjang yang stabil dan memadai. Juga kecakapan mengalokasikan sumber daya finansial itu secara tepat waktu dan tepat sasaran untuk menutupi keseluruhan biaya kegiatan-kegiatan konservasi. Penghitungan defisit kebutuhan pendanaan di atas menjadi dasar awal bagi gambaran skala dan volume upaya pengembangan strategi pendanaan berkelanjutan bagi konservasi di Tanah Papua.

Literasi utama yang digunakan adalah : Protected Area Funding in Indonesia, A study implemented under the Programmes of Work on Protected Areas of the Seventh Meeting of the Conference of Parties on the Convention on Biological Diversity; State Ministry of Environment Republic of Indonesia, 2006: Colin Ian McQuistan, Zaki Fahmi, Craig Leisher, Abdul Halim, Setyawan Warsono Adi.

Literasi tersebut di atas dapat diunduh pada halaman download, kategori Umum, berjudul Protected Area Funding in Indonesia LH 2006.

Related Posts:

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*